Pitutur Urip Wong Jawa

Menggali Kemuliaan Hidup

November 16, 2011
dyk05
0 comments

Lambe Satumang Kari Samerang

Artinya, lambe satumang (bibir setebal tumang atau bibir tungku dapur), kari samerang (tinggal sebatang padi). Peribahasa ini sering dijadikan ungkapan oleh orang tua ketika nasihatnya tidak diperhatikan sama sekali oleh anak-anaknya. Bibir setebal tumang merupakan perlambang bahwa pada mulut orang tua terdapat banyak nasihat yang baik. Sementara itu, bibir tinggal setebal batang padi menjadi kiasan bagi orang tua yang telah kehabisan nasihat bagi anak-anaknya.

Peribahasa ini dahulunya sering digunakan untuk melampiaskan kejengkelan orang tua ketika nasihatnya dianggap angin lalu. Seluruh nasihat seperti masuk telinga kanan kemudian keluar telinga kiri atau sebalinya. Semua hanya lewat tanpa ada satu pun yang singgah di kepala si anak. Nasihat tersebut berhenti hanya sebatas kata-kata saja tanpa ada perubahan yang baik pada diri si anak.

Di Jawa, sering terdengar kalimat “nggah nggih nggah nggih ora kepanggih”. Cuma menjawa “ya” saja tapi nasihat atau pekerjaan atau tugasnya tidak dilaksanakan sama sekali. Ketika disuruh untuk belajar, anak selalu menghindar. Diajari bekerja, begitu orang tuanya lengah, si anak justru main ke rumah temannya sampai sore. Padahal usianya menjelang remaja. Biasanya untuk menyingkirkan kemampatan bathin, orang tua sering menggerutu dengan “Bocah kok ngentekake lambe! Lambe satuman kari samerang”. Dykos.

September 8, 2011
dyk05
0 comments

Kebo Nyusu Gudel

Artinya, kerbau menyusu kepada anaknya (gudel, Jawa). Peribahasa ini menggambarkan situasi dimana orang tua mau tidak mau harus belajar, atau meminta bantuan kepada anak-anaknya. Anak, dalam konteks peribahasa tersebut, dapat diartikan sebagai kaum muda. Dengan kata lain, orang tua yang seharusnya mengasuh dan menghidupi anaknya kini terbalik harus menggantungkan hidupnya kepada anak-anaknya.

Contoh baiknya, jika ada orang tua yang benar-benar menghabiskan (menjual) harta bendanya untuk menyekolahkan anak. Maka setelah si anak selesai menempuh pendidikannya hingga perguruan tinggi kemudian bekerja, mau tidak mau si orang tua terpaksa ikut anaknya karena sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Seluruh kebutuhan hidupnya akhirnya pun ditanggung oleh anak.

Contoh jeleknya, jika ada orang tua yang menghabiskan harta bendanya untuk memburu kesenangan duniawi semata untuk berfoya-foya dan sebagainya, akibatnya di hari tua dia terpaksa “numpang hidup” kepada anaknya.

Contoh lainnya adalah, di jaman sekarang ini, teknologi berkembang dengan pesatnya. Maka yang mudalah yang mampu menguasai teknologi tersebut sehingga banyak para generasi tua harus belajar teknologi yang baru dan canggih kepada para kaum muda. Dykos.

June 13, 2011
dyk05
0 comments

Blilu Tau Pinter Durung Nglakoni

Artinya, blilu tau (bodoh pernah), pinter durung nglakoni (pandai belum mengalami). Bila diterjemahkan secara bebas adalah pernah menjadi si bodoh tetapi belum pernah menjadi si pandai. Ungkapan ini merupakan gambaran dari orang yang tidak pandai dalam hal teori, tetapi cukup ahli (terampil) dalam mengerjakan sesuatu hal karena sudah berpengalaman. Contoh dari peribahasa ini adalah seorang petani. Jika diperhatikan, jarang petani yang ada di pedesaan yang berpendidikan tinggi. Tetapi, semuanya mampu bertani, bercocok tanam, dan beternak. Semuanya mereka lakukan dengan cukup andal. Dari mana ilmu pertanian (bertani) itu didapat.

Jawabannya cukup sederhana, yaitu dari pengalaman. Dari praktik keseharian sambil memperhatikan dan meniru bagaimana orang tua, saudara, atau tetangga melakukan pekerjaan tersebut. Pesan utama dari peribahasa ini adalah jangan takut mencoba mengerjakan segala sesuatu meskipun belum memiliki teori yang cukup. Artinya, memahat kayu, mencangkul sawah, dan sebagainya adalah bukan pekerjaan yang sulit. Dengan banyak mencoba dan tidak banyak keraguan kemudian mengerjakannya seperti orang lain melakukannya maka akan terampil juga. Asalkan berhati-hati, tekun, telaten, dan pantang menyerah. Memang, dalam hal ilmu, petani kalah dengan sarjana pertanian. Namun dengan pengalamannya, untuk menghasilkan padi, palawija, dan sayuran, keterampilan para petani dapat diandalkan. δ

April 28, 2011
dyk05
0 comments

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata

Artinya, desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), negara mawa tata (negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu). Peribahasa tersebut memuat inti dari pandangan kalangan tradisional Jawa yang menghargai adanya pluralitas dengan segala perbedaan adat kebiasaannya. Kaitannya dengan pandangan ini, desa telah membentuk kebiasaan (angger-angger) untuk lingkungan sendiri yang cenderung lebih lentur. Sementara negara memang memerlukan hukum atau peraturan yang lebih tegas, namun bersumber pada adat-istiadat yang tumbuh berkembang di masyarakat.

Peribasaha ini juga mengingatkan kepada para pendatang yang tinggal di daerah lain. Di mana pun berada, seseorang harus pandai-pandai memahami, menghormati, dan menyesuaikan diri dengan adat-istiadat setempat. Seperti peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Mana yang disetujui digunakan, mana yang tidak disepakati jangan diterapkan. Meskipun demikian, janganlah melecehkan nilai-nilai yang tidak disetujui, terlebih bermaksud mengubahnya secara drastis. Sebab, perbuatan tersebut kemungkinan besar dapat menimbulkan kesalahpahaman dengan pihak lain yang berujung pada konflik yang tidak diiginkan. δ

March 24, 2011
dyk05
0 comments

Kebo Kabotan Sungu

Artinya, kerbau keberatan tanduk. Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menggambarkan orang tua yang terlalu berat menanggung beban hidup karena terlampau banyak anak.

Di masa lalu, banyak pasangan suami istri di Jawa yang memiliki anak lebih dari lima, dengan alasan banyak anak banyak rejeki. Namun, yang terjadi sebaliknya. Dengan penghasilan pas-pasan maka beban hidupnya semakin berat sehingga anak-anaknya yang masih kecil harus keluar dari sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan perekonomia keluarga.

Sesuai dengan kodratnya, kerbau hanya mempunyai dua tanduk. Bisa dibayangkan bila mempunyai empat tanduk atau lebih, maka dia akan menderita karena berat tanduk yang berlebihan itu. Demikian juga dengan manusia, apabila jumlah anaknya banyak maka beban hidupnya juga semakin berat. δ

February 23, 2011
dyk05
0 comments

Adedamar Tanggal Pisan Kapurnaman

Artinya, adedamar (menerangi dengan pelita), tanggal pisan (tanggal satu atau tanggal muda), kapurnaman (diterangi sinar bulan purnama). Jika diterjemahkan secara bebas adalah semula akan menggunakan pelita karena masih gelap, namun tiba-tiba malam menjadi terang karena disinari bulan purnama.

Peribahasa ini menggambarkan orang yang bertikai dan salah satu pihak mengadukan pihak lain ke pengadilan. Namun, beberapa waktu kemudian, perkara itu dibatalkan karena yang bersangkutan memperoleh kesadaran, lebih baik perkara itu diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Sebagai contoh, ada dua orang bersaudara kandung yang bertengkar memperebutkan harta warisan dari orang tua mereka. Lantaran tidak ada surat waris, dan masing-masing tidak mau mengalah, maka keduanya sepakat menggunakan jalur hukum untuk memperoleh keputusan. Namun, kemudian keduanya disadarkan oleh petunjuk seorang ulama, bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan bagaimana cara membagi warisan yang adil menurut Islam. Akhirnya, mereka memilih damai dan membagi warisan tersebut sesuai dengan hukum waris agama yang dianut. δ

November 29, 2010
dyk05
0 comments

Dagang Tuna Andum Bathi

Artinya, dagang tuna (berdagang rugi), andum bathi (membagi laba). Makna peribahasa ini menggambarkan orang yang melakukan kebaikan secara tidak langsung, tetapi melalui orang lain. Pertanyaannya, mengapa kebaikan itu tidak disampaikan secara langsung? Atau mengapa kebaikan tersebut harus disembunyikan, atau disampaikan lewat orang lain?

Ada banyak kemungkinan untuk menjelaskan mengapa perbuatan itu dilakukan. Umumnya, karena ingin menjaga perasaan maupun harga diri orang yang diberi kebaikan tadi. Kemungkinan yang kedua, lantaran seseorang tidak ingin diketahui telah memberikan kebaikan atau pun bantuan kepada orang lain.

Sifat ini merupakan salah satu sifat terpuji di Jawa. Artinya, memberikan bantuan kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa mengharapkan puji sanjung atau pamrih sama sekali. Diri pribadinya pun benar-benar tidak ingin ditonjolkan. Maksud dan tujuannya semata-mata hanya memberi, membantu meringankan beban seseorang. Dalam patembayatan hidup di Jawa, pemberian seperti itu tidak boleh dianggap sebagai hutang. Kapan-kapan, pihak yang diberi pun boleh membalas kebaikan tersebut, namun jangan sekali-kali memaknainya sebagai “membayar hutang”. δ

November 18, 2010
dyk05
0 comments

Kencana Waton Wingka

Artinya, emas berlian tampak bagai pecahan gerabah. Sindiran terhadap orang yang menganggap baik anak sendiri, namun selalu menjelek-jelekkan anak orang lain. Pendapat demikian sangat dipengaruhi sudut pandang subjektif seseorang. Misalnya, perasaan senang dan tidak senang di dalam hatinya. Apabila suasana hati sedang senang, maka sesuatu yang buruk akan kelihatan baik. Sebaliknya, jika hati sedang tidak senang atau bahagia, sebaik apa pun yang ada di hadapannya akan dianggap sebagai hal yang buruk.

Makna peribahasa tersebut lazimnya akan mengungkap ketika kita mendengar orang tua yang memuji anaknya setinggi langit, tetapi merendahkan anak orang lain tanpa kompromi. Misalnya, meskipun anaknya hanya memperoleh peringkat kedelapan di kelas, tetap saja anaknya dipujinya. Tetapi, anak tetangga yang berhasil meraih peringkat pertama, tetap saja disepelekan, hanya karena bersekolah di lembaga pendidikan swasta, sedangkan anaknya duduk di sekolah negeri. δ

November 8, 2010
dyk05
0 comments

Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga

Artinya, curiga manjing warangka (keris masuk sarungnya), warangka manjing curiga (karung keris masuk kerisnya). Peribahasa ini merupakan gambaran dari cita-cita ideal tentang hubungan pemimpin dengan raknyatnya di Jawa. Dimana pemimpin memahami aspirasi rakyat dan mau menyantuni mereka dengan baik, sehingga rakyat bersedia mengabdikan diri dengan ikhlas kepada sang pemimpin.

Hakikatnya, pemimpin memang harus menjaga, mengayomi, menata, dan menghidupkan semangat rakyat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, rakyat pun harus bersedia “mengabdikan diri” kepada pemimpin, dengan cara melaksanakan segala kebijakannya, sehingga terjadi harmonisasi dalam tata kehidupan masyarakat.

Dalam konteks ungkapan tersebut, pemimpin dilambangkan sebagai keris yang dimasukkan ke dalam sarungnya (masyarakat yang dipimpin). Dengan demikian, tentu akan bermasalah jika keris terlampau panjang atau sarungnya terlalu pendek. Akan tidak masuk juga ketika keris terlampau besar atau sarungnya begitu kecil, dan selanjutnya. Demikian pula hubungan antara pemimpin dan rakyatnya. Kehidupan di sana akan senantiasa dirundung masalah jika terjadi ketidaksesuaian, ketidakserasian, perbedaan sikap, pendapat, pikiran, serta orientasi dari masing-masing pihak.

November 8, 2010
dyk05
0 comments

Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran

Artinya, kacang (kacang panjang), mangsa ninggala lanjaran (tidak mungkin meninggalkan turus tempatnya merambat). Maknanya, kacang panjang tidak bisa tumbuh dan berbuah dengan baik tanpa merambat peda turus tempatnya memanjat. Apabila dibiarkan, tumbuhnya akan melata di tanah, sehingga pembungaan dan pembuahannya kurang sempurnya.

Peribahasa tersebut menggambarkan perangai atau perilaku anak yang berkonotasi buruk, serta mirip (meniru) orang tuanya yang juga memiliki sifat serupa. Misalnya, dulu ayahnya penjudi dan pencuri. Sekarang, anaknya juga suka bermain judi dan mencuri sejak kecil. Orang tuanya berangasan, suka berkelahi, dan mau menang sendiri, maka anaknya pun mempunyai tabiat yang sama dengan orang tuanya. Sejak kecil, anak itu terkenal nakal, sering bertengkar saat merebut mainan teman-temannya. Seandainya keinginannya tidak terpenuhi, ia pasti mengadu kepada orang tuanya untuk mendapatkan bantuan dan pembelaan.

Bagi yang tanggap, peribahasa ini dapat dijadikan cermin peringatan. Misalnya, dulu orang tua punya sifat atau perilaku yang kurang baik, maka si anak harus berusaha menghindari perbuatan seperti itu, agar tidak dianggap layaknya kacang mangsa ninggala lanjarane. Asalkan berusaha dengan sungguh-sungguh, ia tentu akan menuai hasilnya.